Showing posts with label Festivals. Show all posts
Showing posts with label Festivals. Show all posts

10 May 2008

CATATAN JEONJU INT'L FILM FESTIVAL 2008

Jeonju sangat menyenangkan, festival maupun kotanya. Ada suasana Jogja disana, atau mungkin saya yang terlalu ingin menciptakan suasana Jogja disana. Bertemu teman-teman lama dan berkenalan dengan teman-teman baru. Film dan makanan, mungkin dua kata itu yang paling tepat untuk menggambarkan Jeonju selama berada disana kemaren. Ditambah saya berhasil mendapatkan tiket untuk melihat "Night & Day", film terbaru dari sutradara Korea yang saya kagumi, Hong Sang Soo.

Dua kali Setengah Sendok Teh di putar di Megabox Cinema Street. Berikut petikan dialog saya dan penonton di dua sesi Q&A selama Jeonju International Film Festival 2008.

Penonton 1 (P1) : Saya melihat warna kostum yang digunakan pemain semakin lama semakin berwarna, mengikuti emosi film. Apakah itu sengaja di desain sebelumnya?


Ifa (I) : Pada awalnya memang saya mendesain warna dan karakter setiap baju yang dikenakan pemain di film ini. Warna dan karakter baju selalu mengikuti emosi setiap karakter. Tapi di proses editing saya mengubah cerita film ini dan setiap scene menjadi berlompat-lompatan. Jadi saya pikir desain baju di draft akhir film yang baru saja kita lihat ini sudah tidak berfungsi lagi.

P1 : Apa yang kamu maksud dengan tidak berfungsi lagi?

I : Menurut saya, unsur yang paling penting dalam sebuah film adalah cerita. Jadi saat saya sadar bahwa sesuatu yang tidak bagus terjadi di film saya, satu hal terpenting yang harus diselamatkan adalah cerita. Karena alasan itu saya mengorbankan desain kostum yang sudah saya buat agar cerita yang ada di film saya tetap mengalir dengan baik. Tentu saja kostum tetap berfungsi, tapi tidak berfungsi seperti yang saya rencanakan sebelumnya.

P2 : Kenapa warna yang digunakan di film ini cenderung merah, apakah juga untuk mencerminkan emosi cerita dan karakter?

I : Itu akibatnya, akibatnya warna merah di film ini bisa mewakili emosi cerita dan karakter, tapi bukan sebab. Ada beberapa sebab, saya memutuskan untuk menggunakan warna merah sebagai warna dominan setelah saya menemukan lokasi. Saya pikir warna merah adalah warna yang paling tepat untuk menunjukkan karakter kota saya, karena lokasi yang saya pilih di kota saya berwarna itu, bioskop, bis kota dll. Tapi mungkin sebab yang justru paling realistis adalah karena alasan tekhnis. Di kota tempat saya membuat film ini tidak tersedia peralatan yang bisa saya gunakan untuk membuat karakter cahaya daylight, hampir semua peralatan lampu yang tersedia adalah tungsten.

P3 : Jika dilanjutkan lagi, akan seperti apa hubungan setiap karakter di film ini?

I : Saya tidak pernah tahu akan seperti apa. Mungkin ending di film ini seperti hidup kita hari ini, sekarang pun saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan besok. Tapi saya suka dengan komentar salah seorang teman setelah menonton film saya beberapa waktu yang lalu, menurut dia tokoh suami yang ada di film ini akhirnya mati, karena saya meletakkan shot ruang tamu yang kosong di akhir film.

P3 : Kenapa kamu menggunakan shot yang panjang dan lama, dan dialog yang diulang-ulang?

I : Di film ini saya ingin membuat film yang membosankan, tapi penonton tetap bertahan sampai film selesai. Saya pikir kebosanan identik dengan sesuatu yang lama dan berulang-ulang, karena itu lah saya selalu membuat setiap dialog di film ini menjadi repetitif. Kata "aku cinta kamu" yang sebenarnya manis dan romantis pun terbukti menjadi sangat membosankan jika di ulang-ulang.

P4 : Adakah sutradara lain yang menginspirasi sebelum kamu buat film ini?

I : Setelah naskah dari film ini selesai dibuat, saya menonton salah satu film Tsai Ming Liang. Kemudian saya ingin melakukan seperti apa yang ia lakukan dengan alasan yang sederhana. Sepertinya sangat enak membuat film seperti apa yang ia buat : hanya meletakkan kamera, duduk, teriak "action!", tidur, kemudian bangun dan teriak "cut!". Shotnya dia begitu panjang. Tapi setelah saya mencoba, ternyata sama sekali tidak mudah. Justru sangat susah untuk menjaga aliran cerita dan emosi dengan shot yang panjang dan diam.

P5 : Kenapa Half Teaspoon?

I : Sebenernya bukan Half Teaspoon, original title untuk film ini adalah Setengah Sendok Teh. Hanya saja saat di bahasa inggriskan menjadi Half Teaspoon. Dua kata itu memang mempunyai arti sama, tapi mempunyai kesan atau bahkan emosi yang sama sekali berbeda. Awalnya hanya karena saya suka kata itu, Setengah Sendok Teh. Tapi akhirnya saya putuskan untuk menjadi judul karena Half Teaspoon merepresentasikan karakter utama di film ini. Half berarti tidak kosong dan tidak penuh. Abu-abu, ragu-ragu dan seperti hanya karena tidak bisa mengambil keputusan iya atau tidak, hitam atau putih, kosong atau penuh. Itulah karakter utama di film ini.

P6 : Kenapa kopi?

I : Saya suka kopi, semua orang sebenernya tahu bahwa rasa kopi itu pahit. Tapi banyak yang suka. Buat saya seperti itulah hidup.

P6 : Di filmmu ada dialog "aku benci hari selasa", ada apa dengan hari selasa?

I : Bisa kita skip pertanyaan ini?

(Moderator menjawab bisa)


P7 : Sampai kapan kamu mau membuat film yang berat dan gelap?
(Moderator (M) yang sudah melihat film saya sebelumnya membantu untuk menjawab)

M : Kebetulan saya sudah melihat film-film Ifa sebelumnya. Justru menurut saya Ifa baru saja mulai membuat film yang berat.

I : Benar, ini film pertama yang saya ceritakan dengan berat. Tapi kalo mau dilihat dengan sederhana, film ini sebenarnya sangat sangat sangat ringan. Hanya kisah cinta segitiga biasa. Sebelumnya saya selalu mengambil tema yang berat dan saya ceritakan dengan sederhana. Film saya sebelumnya tentang gempa bumi di kota saya yang menewaskan lebih dari 6000 orang, itu hal sayang sangat berat, tapi saya ceritakan dengan ringan. Di film ini saya mencoba sebaliknya, cerita dan tema yang sangat ringan tapi saya ceritakan dengan berat. Saya baru mulai, belum saatnya ditanya kapan harus berakhir.

P1 : Bagaimana komentar kamu tentang film Indonesia yang lain di sesi ini, "Hullahoop Soundings"?

I : Edwin adalah salah satu filmmaker yang dekat dengan saya. Saya bukan hanya temannya, tapi saya juga salah satu dari fans Edwin. Kamu bisa tahu, sangat susah untuk tidak menyukai sebuah film yang dibuat oleh sutradara yang kita idolakan, walaupun Hullahoop Soundings bukan film terbaik Edwin. Maksud saya fiilm ini belum bisa mewakili Edwin seperti yang saya kenal, untuk lebih mengenal Edwin kamu harus melihat film-filmnya yang lain. Mungkin karena ini film remake.

P7 : Bisa kasih tahu apa yang sekarang sedang kamu kerjakan atau yang akan kamu kerjakan sebagai pembuat film?

I : Tahun ini saya harus menyelesaikan program saya di Pusan, kemudian tahun depan saya baru bisa membuat film panjang saya yang pertama.

20 February 2008

시네마테크의 친구들 모였네


시네마테크의 친구들 영화제가 1월8일 오후 7시30분 서울아트시네마에서 개막했다. 올해로 3회째를 맞은 이번 영화제는 개막작 버스터 키튼의 무성영화 <셜록 주니어>를 시작으로 마쓰모토 도시오의 <수라>, 장 비고의 <라탈랑트>, 에미르 쿠스투리차의 <집시의 시간> 등 총 30편의 영화를 상영한다. 영화배우 권해효의 사회로 진행된 개막식에선 영화진흥위원회 안정숙 위원장, ‘시네마테크의 친구들’의 대표인 박찬욱 감독이 축사를 했고 이두용, 배창호, 이명세, 김종관, 진원석, 이재용 감독도 참석해 자리를 빛냈다. 사진은 개막식 뒤 리셉션 자리에서 대화를 나누고 있는 인도네시아의 이파 감독, 김종관 감독, 이재용 감독(가운데 왼쪽부터).

Taken from CINE21 FIlm Magazine.

19 February 2008

ASIAN PREMIERE SETENGAH SENDOK TEH

Setengah Sendok Teh Asian Premiere di Hongkong Independent Film Video Award 2008, 22 Maret 2008 pukul 4.30 pm, kategori Asian New Force Competition.




Dari awal niat untuk ikut festival ini memang hanya karena tahu kalo 10 finalist akan dibiayai untuk berangkat ke Hongkong. Akhirnya Setengah Sendok Teh berhasil masuk (akhirnya) 11 finalist dari 600 judul film yang masuk.

Ayo Setengah Sendok Teh, berjuanglah lagi!! Kali ini kamu tak temani..nggak menang nggak papa, yang penting kita jalan-jalan ke Hongkong :)

24 January 2008

HARI PERTAMA SETENGAH SENDOK TEH

Hari pertama Setengah Sendok Teh diputar di Rotterdam. Kim Jong Kwan mengirimkan foto ini lewat email beberapa menit setelah pemutaran Setengah Sendok Teh. Hari ini kembali diputar untuk kedua kalinya jam 8 malam waktu Rotterdam. Selamat berjuang Setengah Sendok Teh!

11 January 2008

SEOUL STORY

Minggu kemaren sempet liburan ke Seoul. Misi utama adalah lihat salju, megang-megang salju dan foto-foto di salju.



Indiestory, Mediact, Dinner dll.
Sempet mampir ke indiestory dan mediact. Nampang juga di depan NADA art cinema, Korea University dan Korea National University of Arts. Foto bersama Alex, Yuu Un Seong dan istri setelah diundang makan malam.
__________



Gyeongbokgung
Jalan-jalan di Gyeongbokgung. Daerah ini asyik banget, perpaduan antara bangunan-bangunan modern dan tradisional. Sempet nemu replika kucing kecil yang lucu yang dibawahnya ada sticker made in indonesia seharga 3000 won. Gyeongbokgung adalah bertemunya Kotagede dan Kemang.
__________


On Location
Sempet main ke lokasi shoting Antique, film baru yang di sutradarai oleh Min Gyu Dong (Memento Mori, My Lovely Week)
__________



3rd Cinemateque Friends Film Festival
Datang ke opening night Friends Film Festival di Seoul Cinemateque. Ketemu banyak banget sutradara disini, mulai dari Lee Myung Se (First Love, Bitter and Sweet, Duelist, M), Bae Chang Ho (My Heart, The Last Witness, Road), Park Chan Wook (Trilogy Vengeane, I'm Cyborg but thats ok), Hur Jin Ho (Chrismast in August, April Snow, Happiness). Walaupun udah stay cool, grogi juga nonton Sherlock Jr-nya Buster Keaton di depan Park Chan Wook. Sempat kenalan dan dua kalimat keluar dari mulutnya untukku "Anyong Haseo..Happy New Year!!"
__________


Ansan
Pusat TKI terbesar di Korea. Banyak banget warung Indonesia. Akhirnya makan gule, dapet teh sariwangi dan nonton sinetron di Indosiar juga setelah sekian lama memendam rindu.
__________


Korean Academy of Film Art
Bertemu teman-teman di KAFA untuk makan siang bersama Park Ki Yong (Motel Cactus, Camels).
__________


Foto Session
Foto Sesion sebelum potong rambut. In this picture : Jong Kwan, Ifa, Ju Yeong.
__________


Chonggyechon
Jalan-jalan ke sungai chonggyechon.
__________


Vincent Van Gogh
Untuk pertama kali dalam sejarah hidupku. Nonton Lukisan aslinya Van Gogh. Emang beda dengan yang ada di buku-buku atau internet. Walaupun tiketnya mahal, tapi Seoul National Museum ini tetap aja ramai banget.
__________


Seoul setelah aku pulang
Akhirnya setelah seminggu lebih di Seoul, tetap ada tidak ada salju. Harus pulang saat Nam memberi kabar bahwa ia harus pulang ke Vietnam karena beasiswanya sudah selesai. Setelah mengantar Nam ke bandara, membuka email, dan foto ini yang aku temukan. Ada tulisan broken inggris yang sangat khas darinya "Ifa..today snooooow!!! i just take picture in the front of my house!!!"

"Aaaaarrrrrgghhhhnsdfjnqspgkqpeot*&^khgkdusfh*(*((*&^%$&^@"

25 November 2007

9th Independent Film Festival Made in Busan 2007

Festival yang sudah kesembilan kalinya ini berlangsung dari tanggal 23-27 November 2007 di Busan Sinematek. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari festival ini kalo dilihat dari programnya, hanya memutar sekitar 30 film pendek fiksi, eksperimental maupun dokumenter; 3 film panjang dan beberapa video klip. Yang membuat festival ini berbeda adalah semua film yang diputar diproduksi di busan. Kebanyakan dan hampir semuanya adalah karya mahasiswa sekolah film di busan seperti Dongseo Unviversity, Tongmyong University, Dongeui University. Kyungsung University, Pukyong National University dan Youngsan University sampai Busan Arts College.
Mungkin itu memang keistimewaan setiap festival film pendek di Korea, setiap festival film sekecil apapun mempunyai jenis kurasi yang berbeda, sehingga film yang di putar pun beda dengan film-film yang ada di festival lainnya. Beda dengan beberapa festival film pendek di Indonesia adalah di festival ini setiap penonton diwajibkan membeli tiket seharga 4.000 won yang nantinya akan di share untuk festival organiser dan filmmaker. Walaupun tidak terlalu banyak yang datang untuk menonton, filmmaker menjadi tahu siapa saja yang benar-benar berniat mengapresiasi karyanya. Walaupun saya juga nggak bisa protes saat film yang saya tonton semua berbahasa korea tanpa English Subtitle.

20 October 2007

3rd BUSAN FIRE WORK FESTIVAL 2007


Festival kembang api ini sudah penyelenggaraan yang ketiga, setelah penyelenggaraan yang pertama pada waktu busan menjadi tuan rumah konferensi APEC tahun 2005. Mulai jam 12.00 semua sudah menuju ke Kwanganli, sebuah pantai yang terkenal dengan jembatan gantungnya di Busan. Bis penuh, subway penuh, semua menuju ke Kwanganli. Padahal acara baru akan dimulai pukul 15.00, itupun masih berupa pertunjukan di panggung utama. Sedangkan acara intinya baru akan dimulai pukul 20.00 waktu setempat. Kwanganli sore itu benar-benar gila, ratusan ribu orang mulai merayap menuju pantai yang panjangnya 2 km itu. Mungkin lebih dari 300.000 orang memadati pantai dan jalan-jalan di seputar pantai. Juga hotel, restoran atau apa saja yang berada di sekitar pantai.
Pukul 20.00, semua menghitung mundur dari angka 10. Setelah sampai pada waktunya, festival ini benar-benar menarik. Sekitar 45 menit kembang api dengan berbagai warna dan gaya benar-benar menghiasi atas jembatan Kwanganli. Kembang api itu di tembakkan dari beberapa kapal yang ada di tengah pantai. Dari jembatan juga meluncur beberapa kembang api dan juga lampu-lampu yang menjadikan suasana lebih emosional. Mulai dari gembira, kemudian iringan lagu menjadi sangat sedih dengan warna dan gaya kembang api yang lebih mengikuti irama ilustrasi musik yang di putar.
45 menit lewat, dan semua kembali ke rumah masing2 dan beberapa tidur di sepanjang pantai yang malam itu mencapai 15 derajat celcius. Di stasiun subway, harus mengantri 3 jam untuk dapat masuk ke subway. Perasaanku mungkin sama dengan perasaan ponakanku yang terlihat senang saat aku nyalakan kembang apinya dan aku lemparkan ke pohon mangga depan rumahku.

FOOTAGE BUSAN FIRE WORK FEST 2007

FOTO BUSAN FIRE WORK FEST 2007