Sudah hampir masuk minggu ketiga di Chennai untuk post produksi Garuda Di Dadaku. Jika sesuai dengan rencana kurang dari seminggu lagi semua proses Garuda Di Dadaku sudah selesai. Proses color grading sudah beres diminggu pertama, hasilnya sangat memuaskan setelah melihat hasil print. Semua musik untuk scoring dan soundtrack sudah terdengar, dahsyat. Sudah saya bilang, saya berada di tengah orang-orang yang tepat untuk mengerjakan Garuda Di Dadaku, semua bekerja pada porsi yang tepat. Ini ada bocoran untuk teaser poster. Selamat menikmati sebuah film keluarga Indonesia, selamat menunggu tanggal 18 Juni 2009.
Showing posts with label Tour with my film. Show all posts
Showing posts with label Tour with my film. Show all posts
12 March 2009
MINGGU KEDUA DI CHENNAI
Sudah hampir masuk minggu ketiga di Chennai untuk post produksi Garuda Di Dadaku. Jika sesuai dengan rencana kurang dari seminggu lagi semua proses Garuda Di Dadaku sudah selesai. Proses color grading sudah beres diminggu pertama, hasilnya sangat memuaskan setelah melihat hasil print. Semua musik untuk scoring dan soundtrack sudah terdengar, dahsyat. Sudah saya bilang, saya berada di tengah orang-orang yang tepat untuk mengerjakan Garuda Di Dadaku, semua bekerja pada porsi yang tepat. Ini ada bocoran untuk teaser poster. Selamat menikmati sebuah film keluarga Indonesia, selamat menunggu tanggal 18 Juni 2009.
02 July 2008
BUSAN ASIAN SHORT FILM FESTIVAL 2008
10 May 2008
CATATAN JEONJU INT'L FILM FESTIVAL 2008
Dua kali Setengah Sendok Teh di putar di Megabox Cinema Street. Berikut petikan dialog saya dan penonton di dua sesi Q&A selama Jeonju International Film Festival 2008.
Penonton 1 (P1) : Saya melihat warna kostum yang digunakan pemain semakin lama semakin berwarna, mengikuti emosi film. Apakah itu sengaja di desain sebelumnya?
Ifa (I) : Pada awalnya memang saya mendesain warna dan karakter setiap baju yang dikenakan pemain di film ini. Warna dan karakter baju selalu mengikuti emosi setiap karakter. Tapi di proses editing saya mengubah cerita film ini dan setiap scene menjadi berlompat-lompatan. Jadi saya pikir desain baju di draft akhir film yang baru saja kita lihat ini sudah tidak berfungsi lagi.
P1 : Apa yang kamu maksud dengan tidak berfungsi lagi?
I : Menurut saya, unsur yang paling penting dalam sebuah film adalah cerita. Jadi saat saya sadar bahwa sesuatu yang tidak bagus terjadi di film saya, satu hal terpenting yang harus diselamatkan adalah cerita. Karena alasan itu saya mengorbankan desain kostum yang sudah saya buat agar cerita yang ada di film saya tetap mengalir dengan baik. Tentu saja kostum tetap berfungsi, tapi tidak berfungsi seperti yang saya rencanakan sebelumnya.
P2 : Kenapa warna yang digunakan di film ini cenderung merah, apakah juga untuk mencerminkan emosi cerita dan karakter?
I : Itu akibatnya, akibatnya warna merah di film ini bisa mewakili emosi cerita dan karakter, tapi bukan sebab. Ada beberapa sebab, saya memutuskan untuk menggunakan warna merah sebagai warna dominan setelah saya menemukan lokasi. Saya pikir warna merah adalah warna yang paling tepat untuk menunjukkan karakter kota saya, karena lokasi yang saya pilih di kota saya berwarna itu, bioskop, bis kota dll. Tapi mungkin sebab yang justru paling realistis adalah karena alasan tekhnis. Di kota tempat saya membuat film ini tidak tersedia peralatan yang bisa saya gunakan untuk membuat karakter cahaya daylight, hampir semua peralatan lampu yang tersedia adalah tungsten.
P3 : Jika dilanjutkan lagi, akan seperti apa hubungan setiap karakter di film ini?
I : Saya tidak pernah tahu akan seperti apa. Mungkin ending di film ini seperti hidup kita hari ini, sekarang pun saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan besok. Tapi saya suka dengan komentar salah seorang teman setelah menonton film saya beberapa waktu yang lalu, menurut dia tokoh suami yang ada di film ini akhirnya mati, karena saya meletakkan shot ruang tamu yang kosong di akhir film.
P3 : Kenapa kamu menggunakan shot yang panjang dan lama, dan dialog yang diulang-ulang?
I : Di film ini saya ingin membuat film yang membosankan, tapi penonton tetap bertahan sampai film selesai. Saya pikir kebosanan identik dengan sesuatu yang lama dan berulang-ulang, karena itu lah saya selalu membuat setiap dialog di film ini menjadi repetitif. Kata "aku cinta kamu" yang sebenarnya manis dan romantis pun terbukti menjadi sangat membosankan jika di ulang-ulang.
P4 : Adakah sutradara lain yang menginspirasi sebelum kamu buat film ini?
I : Setelah naskah dari film ini selesai dibuat, saya menonton salah satu film Tsai Ming Liang. Kemudian saya ingin melakukan seperti apa yang ia lakukan dengan alasan yang sederhana. Sepertinya sangat enak membuat film seperti apa yang ia buat : hanya meletakkan kamera, duduk, teriak "action!", tidur, kemudian bangun dan teriak "cut!". Shotnya dia begitu panjang. Tapi setelah saya mencoba, ternyata sama sekali tidak mudah. Justru sangat susah untuk menjaga aliran cerita dan emosi dengan shot yang panjang dan diam.
P5 : Kenapa Half Teaspoon?
I : Sebenernya bukan Half Teaspoon, original title untuk film ini adalah Setengah Sendok Teh. Hanya saja saat di bahasa inggriskan menjadi Half Teaspoon. Dua kata itu memang mempunyai arti sama, tapi mempunyai kesan atau bahkan emosi yang sama sekali berbeda. Awalnya hanya karena saya suka kata itu, Setengah Sendok Teh. Tapi akhirnya saya putuskan untuk menjadi judul karena Half Teaspoon merepresentasikan karakter utama di film ini. Half berarti tidak kosong dan tidak penuh. Abu-abu, ragu-ragu dan seperti hanya karena tidak bisa mengambil keputusan iya atau tidak, hitam atau putih, kosong atau penuh. Itulah karakter utama di film ini.
P6 : Kenapa kopi?
I : Saya suka kopi, semua orang sebenernya tahu bahwa rasa kopi itu pahit. Tapi banyak yang suka. Buat saya seperti itulah hidup.
P6 : Di filmmu ada dialog "aku benci hari selasa", ada apa dengan hari selasa?
I : Bisa kita skip pertanyaan ini?
(Moderator menjawab bisa)
P7 : Sampai kapan kamu mau membuat film yang berat dan gelap?
(Moderator (M) yang sudah melihat film saya sebelumnya membantu untuk menjawab)
M : Kebetulan saya sudah melihat film-film Ifa sebelumnya. Justru menurut saya Ifa baru saja mulai membuat film yang berat.
I : Benar, ini film pertama yang saya ceritakan dengan berat. Tapi kalo mau dilihat dengan sederhana, film ini sebenarnya sangat sangat sangat ringan. Hanya kisah cinta segitiga biasa. Sebelumnya saya selalu mengambil tema yang berat dan saya ceritakan dengan sederhana. Film saya sebelumnya tentang gempa bumi di kota saya yang menewaskan lebih dari 6000 orang, itu hal sayang sangat berat, tapi saya ceritakan dengan ringan. Di film ini saya mencoba sebaliknya, cerita dan tema yang sangat ringan tapi saya ceritakan dengan berat. Saya baru mulai, belum saatnya ditanya kapan harus berakhir.
P1 : Bagaimana komentar kamu tentang film Indonesia yang lain di sesi ini, "Hullahoop Soundings"?
I : Edwin adalah salah satu filmmaker yang dekat dengan saya. Saya bukan hanya temannya, tapi saya juga salah satu dari fans Edwin. Kamu bisa tahu, sangat susah untuk tidak menyukai sebuah film yang dibuat oleh sutradara yang kita idolakan, walaupun Hullahoop Soundings bukan film terbaik Edwin. Maksud saya fiilm ini belum bisa mewakili Edwin seperti yang saya kenal, untuk lebih mengenal Edwin kamu harus melihat film-filmnya yang lain. Mungkin karena ini film remake.
P7 : Bisa kasih tahu apa yang sekarang sedang kamu kerjakan atau yang akan kamu kerjakan sebagai pembuat film?
I : Tahun ini saya harus menyelesaikan program saya di Pusan, kemudian tahun depan saya baru bisa membuat film panjang saya yang pertama.
29 April 2008
SETENGAH SENDOK TEH DI JEONJU INT'L FILM FESTIVAL 2008
Akhirnya Setengah Sendok Teh Korean premiere di Jeonju International Film Festival. Festival ini adalah festival terbesar kedua di Korea setelah Pusan dan Setengah Sendok Teh akan diputar dua kali (6, 7 Mei/20.00/Megabox) di program Cinemascape."Cinemascape introduces the latest works of masters which open a horizon of new aethetics and the films of remarkable new director", begitu yang tertulis di definisi program katalog festival.Satu hal yang awalnya membuat senang tapi akhirnya bikin males juga adalah Setengah Sendok Teh yang diputar satu sesi dengan film pendek Jia Zhangke. Jia adalah salah satu filmmaker generasi keenam China yang mulai dikenal setelah filmnya The Pickpocket. Males juga lama-lama mendengar kata "Waah hebat, satu section ama Jia Zhangke!" Satu hal yang bikin tambah semangat justru karena satu section juga dengan Hollahoop Sounding, film pendek terbaru Edwin. Sudah lama saya ingin menonton film ini setelah kemaren premiere bareng di Rotterdam. Film ini adalah remake dari karya tugas akhir Joel Coen (No Country For Old Man).
Tidak sabar untuk berangkat ke Jeonju, sebuah kota kecil di Korea yang sangat terkenal dengan makanan traditionalnya. Katanya Bibimbap di Jeonju enak banget, padahal di Pusan rasanya nggak karuan. Besok kita coba!
Click here for details.
07 April 2008
INTERVIEW WITH HONGKONG BEATS MAGAZINE
BEATS is first and foremost a music magazine, with an eye and ear towards what's happening in dance clubs around the city. But it's much more than that. Beats is simply your monthly guide to entertainment. We'll tell you what's happening both locally and around the world when it comes to music, movies, DVDS, travel, books, food and more. We'll talk to the hottest emerging and established artists, whether they sing the songs, make the grooves, roll the cameras or act before your eyes. If something's happening in entertainment, we'll be sure to find out about it, because we want you to know too. Beats Magazine (BM) : Describe your piece, Half Teaspoon, in your words?
Ifa Isfansyah (II) : Half Teaspoon is a pack of my dreams that I wish to never come true. A dream of sip in a mixture of three teaspoon coffee and half teaspoon sugar, a dream of watch movie in cheap theater, a dream of being unfaithful to my lover, a dream of take a bus to travel everywhere.
BM : What were the inspirations for the ideas of your piece?
II : In the beginning, I just want to make a boringness movie that make audience keep watching untill the end of my movie. I don’t know what kind of a movie that I want to make, what kind of a boringness that I want to create. A boringness is always identically with something not interesting. People always try and try to escape if they feel boring. What will happen if we face that feeling? Half Teaspoon start from that point.
BM : How was the process of turning this idea in your head into an actual media form?
II : I more often to come to the painting/photography exebithion. I still didn’t know why people can enjoy and see the static picture for a long time. Normally, people can enjoy the painting/picture not longer that 1 minute and leave it. But someday, I found someone who stand and watch one picture for 30 minutes. I don’t know what he’s thingking about? What will he get if watch the picture for 30 minutes? Why he decide to leave that picture after 30 minute? I want to know the answer of all my question. So, I try to watch the same picture for 30 minutes, but I feel so boring in 5 minutes. After 5 minutes, I get more visual experience. But the most important is I get more psychologycally experiece : the first one minute I feel something beautiful, next two minutes I feel so lonely, next one minute I feel boring and the last one minute I missing someone. From that point, I want to create Half Teaspoon like a painting or photography exebithion and have a story inside. I want my boringness stock was empty before start to shot Half Teaspoon, just for one mission : a comfortable borringness.
BM : Toughest part of the process?
II : I have two toughest part and both have a relation. First, I feel difficult to direct and explain my concept to my actor/actress. Because all of them is our parents. The Husband (played by Suhartono) is my father, The Wife (played by Titi Dibyo) is my cinematographer’s mother and The Bus Driver (played by Suparwoto) in my editor’s father. Especially my father, he like my previous movie very much (Be Quiet, Exam is in Progress!) and that movie have a different style with Half Teaspoon. Maybe he feel confuse when realise what kind of a movie that I will make in Half Teaspoon. Finally, I just say to them : play your role untill you feel so boring, if you start to feel boring just raise your hand..i will say cut. In one short scene in this film, I can have a 10-15 minutes footage. That’s why I have length feature film in the first draft of editing, 72 minutes. That’s mean also I have second toughest part. I like the first version, I really feel boring when I watched, but I also feel uncomfortable, I didn’t want it. I cut and cut again untill I have 18 minutes version. In this part, the story was change and very different with the script that we use for shooting. But, that is filmmaking and I like it.
BM : What's next after you've won the IFVA?
II : First, I must finish my scholarship program in Pusan, South Korea, and also prepare for my first length-feature film, One Day When The Rain Falls. I make my first feature with Fourcolours Films and still looking for any kind of co-production or funding. I also co-founded the Jogja-Netpac Asian Film Festival and this year on progress for the 3rd round. This year, I also start to developed a new distribution system in Indonesia, KoperasiFilm.com, a project that aims to establish an online archive and store so that Indonesian independent films may be appreciated in a larger scale.
BM : Last question, describe about yourself?
II : I was born, grew up and spend my whole life in Jogjakarta, Indonesia, the city that I love it very much. I founding Fourcolours Films in my hometown and has been actively producing short films. I was just an ordinary boy next door before I started making film. I suddenly have a particular weight that I have to carry along because I started it all in the city where there was no such thing before. Now I’m living in Pusan South Korea for one and a half year. Leaving all that I love in my hometown just to learn, improve and enhance what I’ve chose; filmmaking.
24 March 2008
HALF TEASPOON WIN A GRAND PRIZE IN HONGKONG INDEPENDENT FILM VIDEO AWARD 2008

Taken from www.filmfestivalworld.com
Hurray, creative talents! More than 20 local and Asian directors have just received prizes from the 13th Hong Kong Independent Short Film and Video Awards (ifva) and are prepared to radiate their creative energies in the city and around the world.
The ifva is the most active promoter of creative media in Hong Kong and Asia.
From this year’s ifva award-winning works, one can see the diversity of styles and possibilities of “Moving the Images.” “Merry X’mas” by the Open Category Gold award winner AU Man-kit Jevons, as the jury Elaine Chow said, “is genuine and rather touching” showing the ordeal of poverty on a little girl. “A very direct way of letting viewers feel the problems of the blind and the response they elicit” as commented by the jury Chan Pik-yu.
“Voice in the Darkness” by Lee Ka-wai and Lau Chui-ting, Gold award winners of the Youth Category, brings the audience to the darkness through lens.
Leong Suet-yan Cherry reveals her great potential in joining the rapid-growing local animation field with her Gold-awarded work “The Hole” using paper-cutting techniques with a “delightful surprise” (commented by the jury Lo Che-ying Neco).
Isfansyah Ifa from Indonesia impresses the jury of the Asian New Force Category with his highly stylized work “Half Teaspoon.”
Suwichakornpong Anocha from Thailand plays around with the real and the fabricated real with respects to the ontology of filmmaking in his work “Jai.”
The full list of Awards include:
Single-Screen-Based Interactive Media Category-
Gold Award: "With hold"
Silver Award: "Alliance"
Director: kWONG Wing-fat
and "Rubbing Tool"
Director: KWOK Yu-ho, CHAN Wai-yu
Special Mention: "Pixsonic Playground"
Director: CHEUNG Hon-him, LAM Chi-fai, Jason
Animation Category-
Gold Award: "The Hole"
Director: LEONG Suet-yan, Cherry
Silver Award: "Link"
Director: CHUI Chun-yu, CHAN Wai-yee
Special Mention
The Red Buds
Director: LEUNG Man-ki
and "Wisdom Tree"
Director: HO Man-kit, TSUI Ka-hei, TSUI Ka-long, CHAN Siu-chung
Open Category-
Gold Award: "Merry X’mas"
Director: AU Man-kit, Jevons
Silver Award: Wong Tsz Ching in "Search for Wong Tsz Ching"
Director: WONG Tsz-ching
and The Young Dream
Director: CHOW Tze-chun, LAI On-ching
Special Mention: "Variable"
Director: WONG Wai-kit
Youth Category-
Gold Award: "Voice in the Darkness"
Director: LEE Ka-wai, LAU Chui-ting
Silver Award: "Family"
Director: HONG Chun-wai, LAM Chi-Kin, CHAN Fu-lim, TANG Ho-man
Special Mention: "GameLive"
Director: FONG Ching-kui
and "Lost View"
Director: CHAN Kai-lun, CHAN Shun-wa
"Deliverance"
Director: KWAN Tsz-wai, Alan
Asian New Force Category-
Grand Prize: "Half Teaspoon"
Director: ISFANSYAH Ifa
"Jia"
Director: SUWICHAKORNPONG Anocha
Special Mention: "Bare"
Director: Santana ISSAR
The Independent Short Film and Video Awards (ifva), hosted annually by the Hong Kong Arts Centre, has been actively promoting innovative creative media since 1995. In addition to supporting short film, video, and interactive media, ifva also organizes pre- and post-award activities to enhance public awareness of creative media and encourage media interaction. Committed to developing local indie talent, ifva seeks to break new ground and push the boundaries of innovation and creativity.
19 February 2008
ASIAN PREMIERE SETENGAH SENDOK TEH
Setengah Sendok Teh Asian Premiere di Hongkong Independent Film Video Award 2008, 22 Maret 2008 pukul 4.30 pm, kategori Asian New Force Competition.



Dari awal niat untuk ikut festival ini memang hanya karena tahu kalo 10 finalist akan dibiayai untuk berangkat ke Hongkong. Akhirnya Setengah Sendok Teh berhasil masuk (akhirnya) 11 finalist dari 600 judul film yang masuk.
Ayo Setengah Sendok Teh, berjuanglah lagi!! Kali ini kamu tak temani..nggak menang nggak papa, yang penting kita jalan-jalan ke Hongkong :)



Dari awal niat untuk ikut festival ini memang hanya karena tahu kalo 10 finalist akan dibiayai untuk berangkat ke Hongkong. Akhirnya Setengah Sendok Teh berhasil masuk (akhirnya) 11 finalist dari 600 judul film yang masuk.
Ayo Setengah Sendok Teh, berjuanglah lagi!! Kali ini kamu tak temani..nggak menang nggak papa, yang penting kita jalan-jalan ke Hongkong :)
24 January 2008
INTERVIEW DENGAN KBS
Minggu kemaren habis di wawancara sama KBS, sebuah stasiun televisi dan radio di Korea. Bisa di dengarkan disini.
24 September 2007
MALAM TERAKHIR
ULANG TAHUN ASALI AISAMOV
MAKE A WISH
NONTON BARENG TENTARA
CABLE CAR
CIMBULAK
SILK WAY CITY
Subscribe to:
Posts (Atom)



