06 September 2007

HI IPHA!!

Sore ini sebenarnya tidak cukup cerah di Busan. Tapi aku memutuskan untuk jalan-jalan setelah seharian sibuk mencuci pakaian. Begitu keluar dari International House, tempat tinggalku, aku melihat beberapa rombongan anak muda pulang kuliah dan langsung menengok ke arahku. Salah satu dari mereka berteriak, "Hii..Iphaaa!!". Aku sangat kaget, baru kali ini aku merasa bukan seorang alien. Semuanya ikut menyapa dan seperti sudah kenal dekat. Aku langsung berlari menghampiri mereka. Dan kami terlihat cukup akrab walaupun tidak jelas memakai bahasa apa.

Kemudian aku meninggalkan mereka melanjutkan perjalanan. Dari kampus kemudian turun ke kampus sebelah, KIT (Keomyeong Information and Tekhnologi). Sempat duduk melihat anak-anak bermain basket, sempat juga hampir tertabrak mobil karena aku justru menoleh ke kanan waktu mau menyebrang jalan. Nekad juga masuk kantor pos untuk menanyakan berapa biaya kirim ke Indonesia, hanya di jawab 500-800. Aku nggak tahu maksudnya apa, kalo won jelas nggak mungkin, kalo dolar juga lebih nggak mungkin. Komunikasiku yang pertama di Korea gagal. Kemudian aku turun lagi melewati kampus satunya, Chapel University, dan turun ke NaengJong Street. Aku jalan terus menikmati suasana mendung dengan angin yang sangat tidak bersahabat. Aku pikir aku sudah terlalu jauh. Karena aku hanya menggunakan celana pendek, kaos oblong dan kamus kecil di tanganku sambil sesekali belajar.

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 18.00. Sudah 2,5 jam aku berjalan naik turun. Aku memutuskan untuk pulang dan pasti akan sangat melelahkan karena aku masih harus naik bukit menuju tempat aku tinggal. Setelah memasukan koin dan mendapatkan minuman soda yang dingin, aku melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku sampai juga di depan tempat aku tinggal. Baru akan masuk, seseorang menyapaku kembali "Hii..Iphaa!!" Aku menoleh dan sangat kaget. Ternyata masih orang yang sama dengan rombongan yang sama. Sudah 3 jam aku berjalan. Ada apa dengan mereka, tepat melewati tempat aku tinggal di saat aku pulang. Aneh. Aku bahkan tidak mengenal dan merasa pernah bertemu mereka. Mungkin ini efek dari Prof. Son mengenalkan aku di kelasnya kemaren sore. Atau..mmhhh..ah, entahlah.

05 September 2007

CRAZY CAKE

Sudah dua hari ini aku menghabiskan malam di kamar Nam. Untuk sekedar nyicil belajar bahasa Korea atau mengekplorasi menu makan malam. Bahkan undangan Opening Night "China Film Festival in Pusan 2007" di CGV (salah satu bioskop besar di Korea) sore ini kita biarkan begitu saja tergeletak di meja demi eksplorasi malam ini. Nam terlihat sangat ahli mencampur tepung dengan telur, sambil sesekali meneriakkan soal ujian kepadaku.
"Library?"
"Do So Kwan!" Jawabku.
Dia tidak mau kalah, "Office?"
"Sa Mo Sil!"
Begitu seterusnya sampai adonan tepungnya terlihat halus dan aku hanya lupa 2 soal dari 20 soal ujiannya. Ia mulai berimprovisasi. Masalah pertama terjadi saat aku suka manis dan Nam suka pedas. Tanpa kompromi ia memasukan gula dan merica di dalam adonan itu untuk mengakomodir keinginan kami.
Ia mengeluarkan panggangan roti dan memasukan adonan roti begitu saja. Aku mulai bingung, dia memang sedang ngawur atau memang begini cara orang Vietnam membuat roti. Roti sudah matang, akhirnya jadi 16 biji. Bahkan aku pun ragu-ragu memakannya. Kemudian kita mulai menikmatinya satu demi satu. Mmmhh..aku bersyukur..manis, tidak berasa mrica sedikitpun. Dan setiap gigitan, kita selalu tertawa. Jumlah tawa dan jumlah gigitan roti benar-benar berbanding lurus.
"Let's call this..CRAZY CAKE!"
"No..Vietnamese Crazy Cake!!"
"No way..Indonesian Crazy Cake!"
Tidak ada kesepakatan Indonesia atau Vietnam yang crazy. Yang jelas dua orang mahasiswa asing dari jurusan Sinematografi dan Penyutradaraan Dongseo University telah berkolaborasi, dan tidak untuk membuat film. Kita mengawali dengan sebuah roti, Crazy Cake!

JOGJA (NEVER) ENDING ASIA!

Hari ini akhirnya aku berhasil membuat janji untuk bertemu Prof. Nam In Young dan Prof. Son. Dua profesor Dongseo University yang sangat aku hormati sejak mulai kenal dengannya setahun yang lalu. Mungkin satu jam ngobrol-ngobrol di ruangan Prof. Son, tentang film pendek, tentang festival film, tentang peralatan Dongseo yang katanya bebas aku gunakan. Prof. Son mempunyai ide untuk memperkenalkan aku di kelasnya. Sebuah ide yang bagus. Jam 16.00, di Brainstorming Room 228.

Pukul 16.00 tepat aku masuki ruangan itu. mungkin 20 orang yang mengikuti kelas Sound ini, anak-anak semester 3. Aku mulai bercerita dengan broken inggrisku.

"Hello everybody, my name is Ifa!"
"Iba!"
"No, Ifa!"
"Oh..Ipha!"
"No man..Ifa!"
"Ipa!"

Oke, aku menyerah setelah aku ingat nggak ada huruf "F" di Hanggul mereka. Toh sama saja, mereka juga akan menuliskan namaku Ipha. Sedikit tidak terima, but that's ok!

"I'm from Jogjakarta!"
"Cukca..."
"No..Jogja!"
"Chukcha!"
"Repeat after me..Jogja!!"
"Chokcha!"

Oke lagi, sama saja. Mereka juga akan menulis Chokcha.

"You Know jogja?"
"Noooo!"

Kali ini mereka kompak menggeleng sambil tertawa. Kemudian aku melanjutkan cerita dengan broken Inggrisku. Tentang Film Indonesia, tentang Film di Jogja, tentang fourcolours. Tidak sampai 10 menit, aku sudah keluar dari ruangan itu.

Aku berfikir jauh ke depan. Aku masih punya banyak waktu untuk membuat mereka tahu dan hafal namaku. Tapi aku seperti sudah tidak mampu untuk membuat mereka mampu menghafal nama kotaku, setelah dua minggu yang lalu aku masih melihat amplop surat keberangkatanku tergeletak penuh debu di sebuah meja kantor Gubernur kotaku.

04 September 2007

PUSAN BANK

Harusnya jadwal pagi ini ke perpustakaan jam 10.00. Karena semalem baru tidur habis subuh bangunnya telat banget, jam 11.00. Dan itupun Nam sudah nuggu di depan pintu ngajak ke perpus. Berdua ke perpus, naik turun bukit di kampus, sampai juga di sebuah gedung yang sangat besar. Semuanya disini otomatis, begitu mau masuk harus nempel semacam kartu yang aku belum punya dan Nam juga nggak bawa. Nam bilang, untuk bikin kartu itu butuh alien card..ya ampuun..alien card lagi. Benar-benar jadi alien disini. Nam minta maaf karena itu gedung baru dan dia nggak tahu peraturannya.

Oke, perjalanan mengarah ke Nonghyup Bank karena kemaren atm-nya Nam nggak bisa keluar dari mesin karena eror..hehe..kalo ini kayak Indonesia. Setelah naik bisa kampus ke bawah, prosesnya sangat cepat dan atm langsung kembali ke tangan Nam. Kemudian Nam bermaksud menukar Won ke Yen karena dia kemaren pinjam uang dari teman Jepangnya. Nonghyup tidak terima tukar uang dan perjalanan berlanjut ke bank sebelah, Pusan Bank.

Aku menunggu Nam yang lagi asyik menghitung Yen sambil membaca majalah mode yang tergeletak di kursi tunggu. Nam selesai dan aku teringat sesuatu. Aku hampiri nam.

"Nam, can you ask for me about Indonesian rupiah currency?"

Nam kemudian bertanya dengan broken koreanya ke mbak yang jaga. Dan dengan cepat mbak yang jaga itu menatapku sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya :

"NO INDONESIAN RUPIAH!"

Aku hanya berbalik arah dan Nam segera mengejar dan merangkulku, dan berkata :

"We're alien, but that's ok!"